Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts
1/29/12
PENDIDIKAN KARAKTER
Perkembangan 30 tahun terakhir kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia ditandai oleh banyak peristiwa yang berdampak besar dalam kehidupan dan sekaligus mencerminkan derajad karakter masyarakat Indonesia. Bagaimana ketika tahun 1992, saat Orde baru, semua atau setidaknya sebagian besar anggota DPR/MPR secara aklamasi menyetujui pengangkatan H.M Soeharto sebagai Presiden RI untuk ke 4 kalinya. Saat itu sesungguhnya masyarakat telah merasakan ketidaknyaman dalam kehidupan social politik, social budaya dan dan social ekonomi. Semua system kehidupan diarahkan sesuai kehendak penyelenggara kekuasaan, termasuk system dan kebijakan pendidikan. Penataran P4 dengan berbagai polanya dipakai sebagai kebijakan yang diharapkan dapat memperkuat karakter bangsa. Melalui penataran P4 diharapkan terbentuk manusia Indonesia yang cinta tanah air, memiliki pemahaman politik yang sama, dan sifat-sifat kemuliaan, kesantunan dan kepedulian social yang tinggi. Tetapi apa yang terjadi ? Pertentangan antar kelompok masyarakat makin meningkat, korupsi merajalela, pengakuan superioritas sekolompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lain, kebencian yang makin kuat terhadap etnik tertentu, kebencian yang makin kuat terhadap system dan pelaksanaan program pemerintah yang dinilai sangat sentralistik dan otoriter, dan masih banyak hal lain yang kontradiksi dengan hasil yang diharapkan dari Penataran P4. Di kalangan umat Islam yang merupakan mayoritas bangsa ini, banyak kebijakan yang justru
Mengapa (Perlu) Pendidikan Karakter?
Ada beberapa penamaan nomenklatur untuk merujuk kepada kajian pembentukan karakter peserta didik, tergantung kepada aspek penekanannya. Di antaranya yang umum dikenal ialah: Pendidikan Moral, Pendidikan Nilai, Pendidikan Relijius, Pendidikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Karakter itu sendiri. Masing-masing penamaan kadang-kadang digunakan secara saling bertukaran (inter-exchanging), misal pendidikan karakter juga merupakan pendidikan nilai atau pendidikan relijius itu sendiri (Kirschenbaum, 2000). Sebagai kajian akademik, pendidikan karakter tentu saja perlu memuat syarat-syarat keilmiahan akademik seperti dalam konten (isi), pendekatan dan metode kajian. Di sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat terdapat pusat-pusat kajian pendidikan karakter (Character Education Partnership; International Center for Character Education). Pusat-pusat ini telah mengembangkan model, konten, pendekatan dan instrumen evaluasi pendidikan karakter. Tokoh-tokoh yang sering dikenal dalam pengembangan pendidikan karakter antara lain Howard Kirschenbaum, Thomas Lickona, dan Berkowitz. Pendidikan karakter berkembang dengan pendekatan kajian multidisipliner: psikologi, filsafat moral/etika, hukum, sastra/humaniora.
Terminologi ”karakter” itu sendiri sedikitnya memuat dua hal: values (nilai-nilai) dan kepribadian. Suatu karakter merupakan cerminan dari nilai apa yang melekat dalam sebuah entitas. ”Karakter yang baik” pada gilirannya adalah suatu penampakan dari nilai yang baik pula yang dimiliki oleh orang atau sesuatu, di luar persoalan apakah ”baik” sebagai sesuatu yang ”asli” ataukah sekadar kamuflase. Dari hal ini, maka kajian pendidikan karakter akan bersentuhan dengan wilayah filsafat moral atau etika yang bersifat universal, seperti kejujuran. Pendidikan karakter sebagai pendidikan nilai menjadikan “upaya eksplisit mengajarkan nilai-nilai,
10/21/11
Tujuan Pendidikan Islam
Belum memenuhi keinginan ummat. Kemerosotan itu disebabkan oleh berbagai faktor, satu diantaranya adalah ketidak fahaman terhadap tujuan Pendidikan Islam. Sebagian pendidik dan lembaga pendidikan berpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah menyampaikan ilmu pengetahuan. Akibatnya semua usaha pendidikan hanya ditujuan untuk mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.
Disamping itu terdapat pula anggapan bahwa yang dinamakan Pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (syari'ah), sehingga berkembang angapan bahwa ilmu-ilmu selain ilmu keislaman bukanlah merupakan garapan Pendidikan Islam. Akibatnya tujuan lembaga Pendidikan Islam terbatas pada pangajaran ilmu-ilmu syari'ah.
Tumbuh Kembang Pendidikan Islam
Sejarahwan Eropa dan Amerika tentang pendidikan tinggi pada umumnya menyimpulkan bahwa akademik dan universitas berasal dari Paris dan Bologna abad pertengahan. Beberapa penulis menyebut lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang kebih awal adalah museum-museum Yunani, sekolah-sekolah Islam Charlemagne di Aachen. Beberpa kalimat mungkin menyebutkan pengaruh ilmuwan-ilmuwan dan sekolah-sekolah Islam atas perguruan tinggi di Barat. Pendapat yang paling umum berlaku menyebutkan bahwa Islam berperan sebagi jembatan penghubung antara Yunani Kuno dengan Barat abad pertengahan dengan hanya melakukan sedikit penambahan pada pengetahuan yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin, lalu menyebar ke seluruh Eropa. Maka dari itu, penting untuk mengkaji terhadapat keberadaan pendidikan tinggi Islam pada masa klasik, guna mencari informasi yang benar tentang pengaruh dan peran pendidikan Islam bagi Eropa dan Barat sekaligus untuk menggambarkan karakteristik sistem pendidikan Islam di negaranegara Islam sekarang. Ada dua
9/24/11
GURUKU GURUMU
Pepatah mengatakan guru itu harus di gugu dan ditiru. Yang di gugu adalah ucapannya dan yang ditiru adalah sikap dan perbuatannya. Hingga saat ini pepatah kata itu masih banyak kita dengar dimana-mana. sehingga penghormatan dari masyarakat kepada profesi guru pun hingga saat ini masih dirasakan. Terlebih lagi bagi guru yang mengabdi di pedesaan seperti saya. penghormatan/pengharggaan kepada guru dirasa masih sangat tinggi. Di dalam setiap even apapun yang diselenggarakan ditingkat desa/kecamatan, pasti bapak dan ibu guru yang pertamakali dilibatkan karena dianggap paling tahu, paling bisa, dan paling menguasai publik.
Namun harus disadari, bahwa guru juga manusia. Selain kelebihan yang dimiliki, guru juga punya banyak keterbatasan dan kekurangan. Di media cetak dan elekronik banyak kita lihat/ kita baca beberapa contoh kasus guru yang terjerumus dalam tindak kriminal dan asusila. sehingga sikap dan perilaku guru yang demikian itu bukan sikap dan perilaku yang patas untuk digugu dan ditiru.
Ada dua kepribadian guru :
11/26/10
KOREKSI PENDIDIKAN KITA
Pendidikan dalam upaya merekonstruksi suatu peradaban merupakan salah satu kebutuhan (jasa) asasi yang dibutuhkan oleh setiap manusia dan kewajiban yang harus diemban oleh negara agar dapat membentuk masyarakat yang memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menjalankan fungsi-fungsi kehidupan selaras dengan fitrahnya serta mampu mengembangkan kehidupannya menjadi lebih baik dari setiap masa ke masa. tidak hanya di Indonesia secara khusus dan Asia secara umum, Timur Tengah maupun Barat, mereka memiliki tendensi tertentu dalam perwujudan sistem pendidikannya.
Saat ini Indonesia sebagai salah satu negeri kaum muslimin terbesar telah didera oleh berbagai keterpurukan, yang diantara penyebab keterpurukan tersebut terjadi karena kekeliruan dalam
Subscribe to:
Posts (Atom)